Minggu, 27 Januari 2013

PEMBANGUNAN, PERUBAHAN SOSIAL, DAN INOVASI PENDIDIKAN

PEMBANGUNAN, PERUBAHAN SOSIAL, DAN INOVASI PENDIDIKAN

Pengantar
Pembangunan dinilai sebagai proses perubahan terencana dan terarah dalam upaya mencapai peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan yang lebih baik. Soejadmiko (1986) mengatakan pada dasarnya pebangunan adalah suatu proses belajar, yaitu peningkatan kemampuan masyarakat, secara individual dan kolektif, untuk menyesuaikan dengan perubahan dan mengarahkan dan memanfaatkan perubahan itu sendiri sesuai dengan tujuan yang diharapkan.


Salah satu tantangan dalam pmbangunan masyarakat adalah memberdayakan masyarakat dengan mengoptimalkan kemampuan dan kemandirian masyarakat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tteknnologi. Pada I berguna dan bermanfaat badasarnya pemanfaatan teknologi untuk suatu tujuan yang baik dalam arti berguna dan bermanfaat bagi kemanusiaan.kondisi kehidupan masyarakan yang mengedepankan iptek menjadikan menjadikan iptek menjadi orientasi utama dalam upaya mencari taraf teknologi kehidupan yang sejahtera.

Dalam konteks ini pendidikan melibatkan tiga hal penting, yaitu ilmu, humaniora, dan teknologi. Yakni kemampuan intelek menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, yang di hubungkan melalui teknologi serta nilai luhur kemusiaan yang di kembangkan meleuli humaniora.

A.    Konsep Pembangunan Masyarakat

Paradigm baru dalam pembangunan merupakan salah satu konsepsi kajian pembangunan yang digali dan di kembamgamgkan oleh Murajad Kuncoro. Yang di ungkapkan sebagai berikut :

Sejak akhir 1960-an semakin disadari  bahwa pertumbuhan (growth) tidak diikuti oleh pembangunan. Atas dasar itulah pembangunan diartikan sebagai sitem sosial. Konsep di ats menjelaskan bahwa pembagunan ekonomi tidak di dasarkan pada GNP melainkan lebih menekankan pada aspek kualitas dan proses pembangunan itu sendiri. Pada tahun 1970-an pembangunan ekonomi di wujudkan dalam upaya meniadakan setidaknya mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpanagn. Selanjutnya, berbagi paradigm baru muncul dan mengatakan pembangunan, seperti pertumbuhan dengan distribusi,kebutuhan pokok,pembangunan mandiri,dll.

Pembangunan masyarakat diarahkan pada perbaikan kondisi kehidupan masyarakat, Ruopp (1953). Pembangunan masyarakat sebagai upaya untuk mengubah keadaan dari yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik yaitu perbaikan kondisi masyarakat Milburn (1954). Sedangkan menurut PBB (1956), tujuan pembangunan masyarakat, mengintegrasikan kehidupan bermasyarkat itu kedalam kehidupan bangsa, dan memampukan mereka untuk memberikan sumbangan sepenuhnya bagi kehidupan nasional Batten (1960).

Secara umum para ahli menjelaskan bahwa pendidikan kunci utama pembangunan. Pernyataan ini dapat kita hubungkan dengan pendapat para ahli :
1. T. Irwin Sanders : pembangunan masyarakat merupakan produk persenyawaan dari dua kekuatan yaitu organisasi sosial, dan pembangunan ekonomi.
2. W.W Rostow : pentingnya jalinan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi, dengan 5 tahap teori : the traditional society, the precondition for take off, the tak off, the drive to maturity, the age of high mass consumption.
Moderenisasi merupakan transformaasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern kearah pola pola ekonomi , politis yang stabil.

B.    Pendidikan dan Perubahan Sosial

perubahan sosial akan tampak bila tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang lama dapat dibandingkan dengan tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang baru. Perubahan yang mungkin terjadi bias berupa kemajuan atau bahkan kemunduran. Unsur unsur kemasyarakatan yang berubah biasanya meliputi kelompok kelompok sosial, stratifikasi sosial, pola interaksi, status dan wewenang, serta pola kehidupan masyarakat.
Perubahan sosial itu dapat dipelajari pada suatu atau lebih tahapan dengan menggunakan berbagai bidang studi dalam satuan analisis. Perubahan sosial dapat berupa perubahan system nilai, karena perubahan pada pranata sosial atau perilaku yang dilakukan secara berulang ulang seperti tradisii dan moral.

Komponen komponen yang membentuk system sosial itu meliputi “tindakan tindakan” nyata yang saling bergantung dan juga arti arti simbolis yang di anut bersama. Komponen komponen tadi meliputi benda benda materil, hasil ciptaan manusia dalam lingkungan, sifat sifat biologis manusi, persepsi individu, harapan, sikap, dan tujuan.

C.    Inovasi pendidikan

Inovasi pada berbagai level pendidikan tercermin sebagai perubahan perilaku, struktur, prosedur, dan tujuan dari berbagai unit pada berbagai level pendidikan (Fulan 1991¬). Ada empat hal pokok yang harus dibangun ke dalam landasan suatu perubahan yang direncanakan, yakni:
•    Mempunyai pemahaman yang mendalam menenai suatu perubahan yang akan dilakukan.
•    Mempunyai pengetahuan yang luas mengenai lingkungan di mana perubahan itu dilakukan.
•    Mempunyai strategi perubahan
•    Memiliki sifat positif terhadap perubahan. (Hanson, 1991)


Ada empat fase dalam amat-an Fullan tentang evolusi kajian dan praktek pembaharuan pendidikan yakni:
•    Kajian adopsi (1960-an)
•    Kajian kegagalan implementasi pembaharuan pendidikan (1970-1977)
•    Kajian keberhasilan implementasi pembaharuan pendidikan (1978-1982)
•    Intensifikasi dan strukturisasi pendidikan (1983-...)


Menurut Fullan implikasi realitas subjektif dan objektif terleta pada:
1.    The soundness of proposed changes (Keandalan perubahan yang diusulkan )
2.    Understanding the failure of well-intentioned change (Memahami kegagalan dari  perubahan yang bermaksud baik )
3.    Guidelines for understanding the nature and feasibility of particular change (Pedoman untuk memahami sifat dan kelayakan perubahan tertentu )
4.    The realities of status quo (Realitas status quo )
5.    The deepness of change; and the question of valuing (kedalaman perubahan, dan pertanyaan tentang menghargai)


Ada beberapa alasan mengapa individu atau kelompok tertentu mau menerima pembaharuan, seperti prestise individu, minat pribadi yang birokratis, responsivitas politis, dan kepedulian untuk memecahkan kebutuhan yang tak terpenuhi.

Proses inisiasi dalam pembaharuan pendidikan menurut Fullan, dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor : relevansi, kesiapan, dan ketersediaan sumber-sumber. Pertimbangan relevansi terkait dengan interaksi kebutuhan dan kejelasan inovasi, dengan kemanfaatan inovasi, atau apa sesungguhnya yang harus ditawarkan pada guru dan siswa. Kesiapan mencakup keterlibatan baik secara konseptual atau praktis dari sekolah untuk memulai mengembangkan atau mengadopsi  inovasi yang given. Sedangkan ketersediaan sumber-sumber berkenaan dengan akumulasi dan ketentuan atau syarat dukungan sebagai bagian dari proses pembaharuan.

Tiga hal yang kunci yang mempengaruhi keberhasilan implementasi program yaitu:
•    Karakteristik pembaharuan yang dikenalkan
•    Karakteristik lokal
•    faktor-faktor eksternal

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan implementasi program pembaruan menurut Fullan adalah dukungan dana dari pemerintah lokal tidak ada, kekurangan dana untuk mengembangkan staf, serta daya dukung staf untuk kelangsungan program tersebut termasuk penyediaan guru baru. Banyak perencanaan pembaharuan pendidikan gagal karena kesalahan mengidentifikasi kesalahan teknis yang spesifik, seperti kekurangan materi yang baik, pelatihan yang tidak efektif, atau dukungan administrasi yang kurang.

1.    Pembaharuan Pendidikan Tingkat Lokal

Pembaharuan dalam level sekolah dengan cara menganalisis peran partisipan-partisipan kunci dan hubungan organisasinya. Pada implementasinya, menempatkan guru sebagai implementor sentral pembaharuan tersebut. Keberhasilan pembaharuan pendidikan sesungguhnya bergantung pada apa yang guru  perbuat dan pikirkan. Pembelajaran dan pendidikan di sekolah menjadi efektif jika: (1) orang yang diminta menjadi guru adalah orang yang berkualitas, dan (2) sekolah diorganisasi untuk menstimulasi dan menghargai setiap pelaksanaan pembaharuan.

Ada beberapa temuan menarik untuk dikaji, dan oleh Fullan sudah diringkas sebagai berikut:
1)    Pendidikan guru ternyata tidak membekali para siswanya untuk menghadapi realitas kelas yang nanti menjadi tugas pokoknya.
2)    Organisasi adalah yang bersifat seluler mengakibatkan para guru selalu dihadapkan pada berbagai masalah dan ketakutan yang bersifat pribadi.
3)    Para guru umumnya gagal mengembangkan budaya kerja sebagai guru.
4)    Jika guru menghadapai persoalan dan ingin meminta bantuan penyelesaiaannya, sumber- sumber yang paling efektif  digunakan guru pada umumnya cenderung mengikuti apa yang dikatakan guru itu sendiri.
5)    Keefektivan pembelajaran diikur secara informal melalui pengamatan siswa yang bersifat umum.
6)    Para guru umumnya tidak yakin apakah ia telah melakukan perubahan atau belum.


Umunya guru menggunakan empat kriteria utama dalam menerima pemberitahuan:
1)    Apakah secara potensial perbaharuan tersebut mampu memenuhi kebutuhan pembelajarannya,? Apaka siswa akan tertarik,? Apakah para siswa juga akan belajar? Adakah bukti bahwa pembaharuan tersebut memang dapat memberikan hasil bagaimana diharapkan.
2)    Seberapa jelas pembaharuan tersebut bagi  para guru sehingga mempermudah baginya untukmelaksanakannya.
3)    Bagaimanakah pengaruhnya terhadap halhal yang yterkait dengan pribadi guru, seperti waktu, energi yang dihabiskan, eahlian baru yang dibutuhkan,.
4)    Bagaimanakah pennghargaan yang akan diterima para guru termasuk dalam kaitannya dengan pergaulan antar sesama guru.

Munurut Fullan, admnistrator kabupaten harus benar-benar bekerja sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya dalam pembaharuan pendidikan. Mereka harus mendorong proses inovasi:
1)    Sesuai dengan kebutuhan dan dapat diuji.
2)    Menentukan inovasi tertentu sesuai kebutuhan.
3)    Mengklarifikas, dan mendukung peran kepala sekolah serta administrator lainnya dalam implementasi program pembaharuan.
4)    Menjamin dukungan implementasi pembaharuan.
5)    Memungkinkan adanya redefinisi dan adaptasi inovasi tertentu.
6)    Mengkomunikasikan dan memelihara dukungan orantua dan dewan pendidikan.
7)    Memiliki waktu yang realistik.

Fullan juga menjelaskan akan pentingnya peran orang tua dan masyarakat dalam pembaharuan pendidikan. Bentuk keterlibatan orangtua mencakup:
1)    Keterlibatan langsung disekolah ( contoh sebagai sukarelawan atau asisten)
2)    Keterlibatan orangtua dirumah (membantu anak belajar dirumah)
3)    Relasi sekolah orangtua/masyarakat
4)    Badan penasehat pendidikan

2.    Pembaharuan Pendidikan Pada Tingkat Provinsi dan Nasional

Proses kebijakan dalam kurikulum menurut Fullan harus dimulai dari tahapan inisiasi, implementasi, monitoring, evaluasi dan restrukturisasi. Di amerika, kurikulum sekolah mencakup tujuan, topik, dan isi yang mau diajarkan, serta aktivitas lain yang disarankan.

Ada tiga komponen dalam pendidikan guru yang mempengaruhi sosialisasi awal dari guru: (1) pendidikan umum, kesenian, sains, matematika, dan sebagainya yang harus diselesaikannya diluar institusi pendidikan guru; (2) dasar-dasar pendidikan dan (3) pengalaman dasar untuk menjadi guru.
Karakteristik pembangunan profesi guru, yakni :
1)    Kolegalitas dan kolaborasi
2)    Suka bereksperimen dan berani mengambil resiko
3)    Berbasis kerjasama berdasarkan ilmu pengetahuan
4)    Waktu dihabiskan untuk pengembangan staf dan mengasimilasi cara belajar baru.
5)    Keterlibatan partisipan yang memadai dalam penentuan tujuan, implementasi, evaluasi dan pembuatan keputusan
6)    Dukungan kepemimpinan dan administratif yang berkelanjutan
7)    Penyediaan insentif dan penghargaan yang memadai
8)    Dirancang berdasarkan prinsip belajar orang dewasa dn proses perubahan.
9)    Mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan sekolah dan pemerintah daerah.
10)    Dibangun atas dasar filsafat dan struktur organisasi yang benar baik untuk ukuran sekolah maupun daerah.
   
Fullan mengidentifikasi aanya 6 tema sentral dari paradigma baru yang dibutuhkan dalam pembaharuan pendidikan. Keenam tema tersebut adalah:
1.    Dari cara berfikir negatif dalam melihat pembaharuan ke positif
2.    Dari solusi yang bersifat monolitik ke alternatif
3.    Dari inovasi individu ke inovasi institusional
4.    Dari kerja individu ke kersa sama
5.    Dari pengabaian proses pembaharuan ke apresiasi yang serius terhadap proses pembaharuan
6.    Harus berfikir “hanya jika” ke “jika saya” atau “ jika kami”

Emile Durkheim memandan pendidikan dari segi sosial, bahwa pendidikan merupakan fakta sosial yang berada pada individu, diri individu dan lingkungan masyarakat ( moral dan sosial masyarakat) yang saling mempengaruhi dalam sistem sosial. Kemudian, menurut Rogers, ada empat unsur penting dalam penerimaan inovasi yaitu:
1)    Inovasi itu sendiri
2)    Komunikasi inovasi
3)    Sistem sosial dan aspek waktu.

Menurut Rogers, ada lima ciri inovasi yang disebutnya sebagai atribut inovasi.ciri-ciri inovasi tersebut yaitu:
1)    Keuntungan relative (relative adventages)
2)    Kecocokan ( compatibility)
3)    Kerumitan ( complexity )
4)    Ketercobaan ( triability)
5)    Keteramatan ( observability )

Kompetisi merupakan kekuatan dahsyat yang mendorong inovasi bila individu atau kelompok mempunyai keinginan bersama untuk mendapatkan bagian maksimal dari ganjaran bersama mereka. Kompetisi inipun menjadi ciri menonjol di negara maju khususnya negara kapitalis. Perubahan sosial juga dapat terjadi karena adanya konflik. Konflik tersebut ada yang negatif dan positif. Konflik yang positif terjadi pada dinamika dalam kelompok ( in group)dalam hubungannya dengan dengan luar kelompok.kekuatan solidaritas internal dan intregasi di dalam kelompok bertambaha tinggi. Menurut Lauer (1989) knflik selalu berhubungan erat dengan kompetisi karena kompetisi dapat menciptakan konflik. Atau sebaliknya, konflik dapat menciptakan kompetisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar